Desember 09, 2015

Terbatas Dinding Semu

Hening, terasa sunyi meskipun banyak orang. Sepi, hanya suara langkah kaki yang menghantam lantai. Hampir mendekati seperti pusat kota, namun beratmosfir mati tanpa kehidupan.

Jika kamu jadi aku, mungkin takkan berani mengeluarkan satu kata, tapi aku tidak, setidaknya aku berharap begitu. Aku coba berdiri dan bicara kepada entah siapa, "mengapa kita diam?", bukan bodoh, namun ini yang dibutuhkan, bukan, ini yang aku inginkan. Mata mereka seolah memandangiku, hanya sedikit yang menatap mataku.

Nihil menjawab keraguanku, seolah lupa aku bertanya, kita kembali terdiam.
Ketik... Ketik... Ketik...
Bagaimana bisa Manusia berubah hanya kurun waktu 10 tahun?
Salahkan Einstein, dia yang menginginkan perkembangan
Salahkan Da Vinci, dia hanya mau mempelajari
Salahkan Steve Job, dia membuat perkembangan besar

Bagaimana kalau salahkan diri sendiri?
bukankah kita yang tidak mau mengerti perkembangan? hanya menggunakan tanpa tau kelanjutan.
kembali, ke makam yang dipenuhi makhluk hidup. Aku melangkah dan membuka pintu, sekali lagi, tanpa suara, seolah Tuhan telah membungkam dunia. Cahaya itu menyinari isi ruangan, berkas demi berkas. Benar, Fulan berteriak hebat, "Apa yang kamu lakukan?", tentu hebat, teriakan itu benar membuat yang bisu dapat berbicara, semua berteriak memaki kepadaku.

Aku tertawa, bagaimana tidak?
itu yang aku inginkan
Mereka pula tertawa, lebih keras dari ledakan hiroshima
Bukan, mereka tidak tertawa bersamaku, namun menertawakanku
"Bagaimana mungkin, orang tertawa saat dimaki, kamu kehilangan akalmu ya?" peduli tidak aku dengan ucapannya.

Aku hanya akan merindukan saat-saat seperti itu, entah meski aku harus dimaki, tapi masa-masa dimana kita tidak dipisahkan oleh dinding semu yang kita buat karena teknologi.

Satu saja, berikan saja aku satu hari terakhirku untuk masa-masa itu.

0 komentar:

Posting Komentar