Aku merasakanmu
Seperti angkasa kepada bumi
Mengelilinginya...
Namun terpisah suatu zat murni
Aku mendapatkanmu?
Hanya seperti pasir hisap kelabu
Semakin aku berusaha mendekat
Semakin tenggelam dan melekat
Tapi, maukah kamu berbagi beban?
Batin yang tersiksa dan haus akan jawaban
Angan yang dihantui oleh pertanyaan
Raga yang terhempas di atas pelataran
Bagaimana bisa kamu menghadapi dunia?
Bagaimana mereka menyebut kamu sempurna?
Kenapa aku menggunakan kata mereka?
Entahlah, mungkin karena aku tidak
Aku tidak berbohong juga menerka-nerka
Tapi ini fakta dari sebuah pemikiran otodidak
Aku berani menyebutmu tidak sempurna
Aku melarang dirimu untuk sempurna
Aku berharap engkau takkan sempurna
Karena aku masih disini
Dan akan segera siap untuk menyempurnakanmu
Bagaimana dengan itu, wahai engkau yang mereka sebut "Sempurna"?
Februari 18, 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar