September 15, 2016

Salah Sangka?

Dia berharap untuk dimengerti.
Ketika berada di titik terbawah di area yang paling dasar, melihat semua hal seakan-akan jauh meninggalkannya di atas, semua yang dengan mudahnya menginjak dan memuntahkan apapun ke bawah.

Dia hanya ingin kalian tau apa yang ia rasakan.
Untuk mempunyai rutinitas baru yang dikhiasi rasa sepi yang abadi, bahkan terasa akan terus seumur hidupnya.
"Dihina, dicaci, dimaki bahkan dibuang dari mereka yang selama ini didekatku." Pikiran melankolis itu seolah-olah memiliki pola yang berotasi di dalam benaknya.

"Namun tak pernah kupandang mereka buruk."
Karena dia tau, dia akan kembali mengitari hidup mereka
menjadi bayang-bayang mereka
menjadi cameo yang berharap dapat menyempurnakan "film" mereka.


Dia berharap kalian dapat memaklumi perasaannya
"Tentang apa yang mereka lontarkan selalu menyinggung perasaanku, meski aku tahu itu sangat jauh dari kenyataannya."

Malam ini ia terduduk di sebuah kafe, ditemani segelas kopi lokal, tidak mengenal satupun wajah, familiar pun tidak.
"Tempat ini, tempat dimana aku hanya mengenal aku,
dan untuk mengenal siapa aku lebih lagi. Aku rasa begitu"

Dia ingin kalian merasakannya juga. Merasakan mengenal diri sendiri.
Mengenal diri yang menolak akan sifat melankolisnya.

Sedih yang terlalu bahagia,
dan senang di sekitar penderitaan.

Lemah yang ditolak logika,
dan kuat yang rentan akan perasaan.

"Kuharap aku masih dapat menyampaikan pesan ke mereka.
Mereka yang aku kenal.."

0 komentar:

Posting Komentar