Hari ini aku sendiri, tak perlu kamu tanya, itu sudah biasa. Dengan alunan lagu yang biasa untuk memacu semangatku, tapi rasanya itu sia-sia, nyatanya aku masih kecewa. Karena apa? Karena sendiri, kadang ku justru merasa bingung dengan itu. Rasanya seperti ketika kamu kecewa, karena masih bernafas, aneh bukan? kenapa kamu kecewa? aku harap kamu tidak seperti itu.
Aku ingin menceritakannya, tapi jangan berharap ini akan seperti yang kamu rasakan dikala kamu butuh hiburan. Dan ini pun bukan maksudku mencurahkan isi hati juga. Aku hanya ingin bercerita, tapi maaf jika tak sesuai ekspektasimu.
Hari ini, Biana pergi, aku tak tau kemana, maka dari itu jangan ditanya, "Jauh.." katanya, aku tidak ingin tau lebih lanjut lagi, karena aku tau itu yang ia mau. "Sampaikan salamku kepada semua yang di sana" Biana mengangkat tangannya, menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya, sementara jari lain terbuka, memberi isyarat padaku dengan maksud menjawab "ok" atau "baiklah". Aku tidak punya masalah dengan Biana yang tidak menjawab dengan kata-kata, karena aku tau, dia tidak ingin aku mempermasalahkannya. Akan sulit berkomunikasi dengannya, apalagi dengan dia yang tak mau aku hubungi.
Mendengar suara mesin kereta yang mulai bekerja, nampaknya aku harus menjauhi jendela kereta, berhubung mendekatinya juga percuma, karena tidak dapat melihat Biana dengan jelas. Jika dapat aku gambarkan, Biana duduk di sisi seberang dari jendela yang kumaksud, entah kenapa ia memilih di sana, padahal di dekat jendela itu sama sekali tidak ada orang. Kenapa pula aku menanyakannya, padahal aku sudah tau jawabannya. Kereta itu semakin jauh dari stasiun tempatku berada, membawa rindu yang tak pernah nyata eksistensinya.
"Dera, aku akan merindukanmu" kira-kira seperti itu ekspektasiku saat Biana pergi meninggalkanku. Tapi lihat lagi aku di kedai ini, sendiri, menulis di atas kertas dengan tinta hitam seadanya, berharap ada yang menemukannya dan membacanya, mengerti perasaanku saat aku menulisnya.
Sebelumnya, Biana lebih memilih hujan badai dibanding aku yang sedang dilanda di dalamnya, entah mungkin ia kini ingin mencari badai yang lebih merusak untuk nanti dibawanya kepadaku, memberi pelajaran untukku tidak lagi mendekatinya. Kenapa dia seperti itu? bahkan sebelumnya kita berhubungan baik. Setelah Biana, aku merasa seluruh dunia menjauhkanku, tapi apakah mendekatinya lagi akan membuat dunia dekat denganku, entah jika semesta tidak setuju, aku tetap bodoh karena itu memang naluriku.
Depok, 16 Januari 2006
-Dera-
0 komentar:
Posting Komentar