Catatan ini adalah tentang kemarin. Tentang hari yang kamu tinggalkan. Sedang aku? Masih berada di hari yang sama. Tentang kembali dan kepulangan.
Dari yang lama mungkin kulupa..
Dengan senyum sunyinya hadir menyinari bersamaan kelamku.
Biana datang entah kapan, karena sibuknya aku memikirnya. Berpikir tentang apa yang aku sampaikan padanya nanti.
Sampai puisi itu pun belum selesai disuratkan, gundahku masih mengganggu karenanya.
Karena Biana sudah hadir. Entah.
Harusnya aku bersuka cita terhadapnya. Harusnya aku menyambut di kala kehadirannya.
Larut aku dibuat kedatangannya.
"Dera, kamu tidak berpikir ini sudah berakhir, bukan?"
Sekali lagi. Larut aku dibuat kedatangannya. Larut aku dibuat senyuman kelamnya.
Menghangatkan hati, namun perlahan membekukan otakku, tak lagi bisa untuk berpikir apa yang harus diutarakan,
"Dera.."
Suara itu, semakin jelas namaku disebutnya, semakin sejuk atmosfer ini diubahnya.
"Dera, dengar.. kamu tidak berpikir ini semua sudah berakhir, kan?"
"Itu adalah pertanyaan pertama dari sekian lama kamu tak bicara padaku.."
Lalu hening yang kita rasakan. Yang aku dengar hanya hembusan nafasnya yang menenangkan.
"Kenapa?"
Muncul lagi pertanyaan dari lidahnya. Pertanyaan demi pertanyaan, apakah kamu hanya akan terus bertanya Biana? Akan kusimpan pertanyaan itu dalam hati, sampai suatu saat nanti, aku yakin tak ada kesempatan untuk mempertanyakannya.
"Tidak ada yang berakhir. Dari awal pun aku tidak merasa semua ini akan berakhir, Biana, ayo pulang.."
Ia tersenyum. Ia tersenyum dengan segala kata-kata palsu yang kukeluarkan.
Tentu saja tidak semuanya palsu.
Dari seluruh kata-kata palsu yang kututur kepadamu, sebagian adalah harapan, dan sisanya adalah keputus-asaan.
Kamu pun pasti tau, tidak ada hal yang kuharap palsu dari hidup yang fana ini. Begitu pun dengan yang kuberikan.
Aku harap kamu demikian, Biana. Aku harap kamu demikian.
Depok, 8 Pebruari 2006
-Dera-
0 komentar:
Posting Komentar