Desember 31, 2018

Parokialistis dan semacamnya

Dia dengan sebayanya.
Mereka dengan terserahnya.
Dunia dengan serakah ilmunya.
Semesta dengan kesabarannya.

Yang ditakutkan menjadi semakin nyata, kamu tau sendiri ini akan menjadi sulit.
Budaya akan gagal. Peradaban takkan dilanjutkan. Pendidikan serasa percuma.

Kapitalisme terselubung, atas nama adab dan budaya dari opini pribadi.
Sentralisasi sepihak, yang lain tidak boleh tahu, bahkan ada yang sengaja tak mau tahu.
Narasumber anonim, terdigitalisasi tanpa mengikuti alur modern, bukan indie malah cenderung monarki.

Yang diagung-agung, tak mau merenung, sampai jantung sudah penuh dengan relung, karena yang jiwa petarung kini sudah menjadi patung, takut tak bisa mengapung untuk menampung beban saat dijatuhkan ke palung.

November 15, 2018

Dahaga Bahagia

Prasangka jangan diduga, yang kamu kira sedia, tak berarti akan selamanya, kecuali kuasa-Nya menghendaki untuk demikian adanya.

Terakhir, kami menolak fakta, tapi aku memang sudah dari dulu buta, menganggap yang ada suatu saat nanti akan bergunanya, nyatanya, semua binasa, lalu aku bisa apa? tinggal berburuk sangka dalam perkara "bahagia".
Terlambat untuk berkata jenuh, karena pada dasarnya kita semua sudah penuh akan peluh yang menyeluruh pada tubuh, dari patuh hingga acuh, segala keluh seolah menyuruh "bahagia" untuk lekas luluh.
Eranya sudah tak terjamah lagi, bukan pula waktunya untuk memaki-maki. Semua risau, resah, gundah sudah menjadi satu dalam diri, tinggal bunuhnya yang terlewati, tapi jangan sampai itu terjadi, karena kurasa semua sudah tau akan terikat pada satu temali, yaitu kodrat hidup yang hakiki.

Kita telah lama membual, mencari arti "bahagia", yang justru kita lakukan hanyalah menjauhkan diri dari makna "bahagia" sesungguhnya. Berpetualang, melewati medan yang membuat kaki-kaki ini menderita hanya untuk berucap "gagal", lalu haus, berharap akan ada kebahagiaan yang tanpa sengaja menetes, melewati kerongkongan yang sudah seperti gurun itu, lalu setelah itu semua terjadi, apa yang mungkin kita lakukan? Benar, mencari arti "bahagia", lagi.

Kita sudah terlalu lama menjadi bodoh, kita sudah terlalu lama mengetahui itu, kita sudah terlalu lama membohongi diri atas fakta-fakta boneka tentang kita yang tahu dimana "bahagia" itu berada. Sampai dahaga itu datang menampar setiap pipi-pipi pelarian yang kita ciptakan untuk meninggalkan realita demi mendapatkan "bahagia" versi kita sendiri. Apa itu membuat kita sadar, bahwa kita salah? tidak, kita semakin yakin dengan melanjutkannya "bahagia" akan datang mengguyur kita.

Lalu apa sebenarnya "bahagia"? kenapa kita penuh dahaga akannya? bagaimana jika itu hanya bentuk indikasi dari zero-nya tingkat kesedihan? kapan kita berhenti menginginkannya?

Kamu benar, atau kita benar, untuk menjadi bodoh adalah sebuah bentuk kebahagiaan. Untuk penuh akan pertanyaan adalah sebuah bentuk kebahagiaan. Setidaknya itu adalah versi ku sendiri. Adalah kebahagiaan jika kita cukup bodoh untuk tidak perlu mengetahui apa arti "bahagia", adalah kebahagiaan untuk tetap berdahaga akan bahagia.

September 22, 2018

Preservatif Konservatif

Siang itu, cuaca memang berangin, tapi kamu hanya ditemani bayanganmu, masih lengkap dengan seragam tadi pagi.
Jalanmu mulai lelah, tapi kamu paksa untuk sampai setidaknya 2 kilometer lagi untuk melangkah.
Tetes-tetes keringat sudah memperingatkanmu, tapi justru mereka yang memberitahuku.
Memberitahu sepeda motor yang saat itu akan kukendarai untuk tak segera ke tempat ku berada seharusnya.
Memberitahu ragaku untuk segera bergerak ke arahmu, mereka bilang itu harus, mereka bilang bukan maumu, tapi harusku.
Memberitahu tuturku yang biasanya bicara sesukanya untuk menyampaikan yang benar kepadamu.

Siang itu, tuturmu juga menyampaikan yang benar apa maumu. Tutur yang menolak tuturku itu menyampaikan yang benar apa maumu, tapi, caramu melangkah menyampaikan yang benar apa harusku.
Meyakinkanmu adalah keindahan yang inginku panjangkan, perbincangan mengenai bagaimana aku harus membuatmu yakin bahwa kaki-kakimu itu butuh istirahat adalah sebuah tetes air pada kering tenggorokanku.

Siang itu, kali pertama kamu bilang "Iya" untuk apa saja ajakanku. Dan aku tidak berharap lebih, cukup apa yang kamu lakukan setelah kata itu, aku tak menginginkan apapun lagi.
Cukup dengan kamu duduk di jok belakang sepeda motorku, menjaga jarak karena aku tau kamu pasti begitu, dan menyamankan diri sampai nanti tempat tujuan menanti.

Siang itu, obrolan-obrolan kilat kubuat agar kamu tidak mati kebosanan, atau mungkin hanya aku yang ingin berbincang denganmu, di kesempatan yang hampir mustahil ini. Otakku terbagi sempit, antara obrolan itu dan seberapa sebentar waktu yang akan dihabisi untuk ini, mengingat rumahmu yang akan dituju tidak lebih dari 15 menit.

Lalu siang itu, membuat detak-detak di tiap jam berhenti di kepalaku, berharap agar terdapat setidaknya 3600 detik di tiap menitnya. Agar waktu terasa lama. Agar jarak sedekat ini denganmu menjadi sebuah hal yang tak perlu aku banggakan namun dapat dibingkai di salah satu sel-sel otakku yang kecil ini.

Belum hari menyentuh sore, namun langit sudah menunjukkan lembayung-lembayung cenderung mendung, dan 6 detik lagi sudah akan sampai di depan rumahmu. Kelakar di perjalanan tadi masih terngiang di kepalaku, entah bagaimana denganmu, aku tak mau tau.
Lalu turunlah kaki yang tadi telah lelah menyusuri jalan, kuharap sudah tidak lelah lagi.
Harapanku membayang-bayang yang akan terjadi, perbincangan depan rumah sang gadis, lalu diajak untuk masuk ke dalam, sehingga obrolan kilat telah melesat menjadi dialog ballad yang akan terus melekat.
Tapi itu hanya harapan, ketidak-inginanmu, dan ketidak-nyalianku telah menyatu menjadi momen yang terelakkan tersebut.

"Terima kasih" dan "Sama-sama" adalah basa-basi terindah yang terakhir kali ku dengar darimu kala itu, lalu aku terpaku sejenak, apa aku harus pergi? ya aku harus pergi. Kamu memasukki rumah dan sepeda motor ini bergerak seirama dengan setiap sarafku yang mengingatkanku untuk kemana aku harus pergi, meninggalkan apa yang sudah seharusnya terjadi, meninggalkan apa yang sudah kupilih.

Siang itu. Kala itu. Kamu tidak akan ingat, karena itu hanya ada di memoriku, bagaimana denganmu? entahlah, mungkin aku tidak perduli. Tapi aku harap ada di ingatanmu setelah kubagikan semua ini.

September 03, 2018

Dunia Aksara

Jarinya menari, di atas papan berhuruf. Digital, namun total.
Pikirnya melayang, tersalur pada saraf pada tangannya, hingga terasa yang ia sampaikan.
Cerita tentangnya, atau orang lain, dengan hiperbola berbalut keindahan.
Kadang kala ia ceritakan tentang dirinya, namun semu, atau cerita tentang semu namun dibubuhi dirinya, agar sekali lagi diakhiri dengan keindahan.
Bersamanya, terlahir kalimat-kalimat yang rasanya ingin untuk berpaut ke dalamnya, mencari apa artinya, atau justru membuat banyak orang di antara kita untuk berspekulasi apa yang sedang ia rasakan. Tentu, kasih. Ia tak menginginkan itu.
Bersama yang ia ketik, terhanyut segala asa dan prasangka menjadi kesatuan yang membuat mereka yang membacanya merasakan menjadi dirinya, atau semu yang ia ciptakan.

Kini jarinya menari, tapi pada secarik kertas yang ia sengaja sediakan untuk berwacana. Pena hitam yang ia gunakan seolah menuntun kemana jemari itu harus menggoreskan huruf-hurufnya.
Menciptakan sebuah dunia, menduniakan sebuah cipta, seperti sudah terbiasa.
Memberi nyawa pada barisan-barisan aksara, atau justru membuat dirinya berada di sana, bersembunyi di urutan yang hanya dia yang tau. Lalu barisan yang padat itu dijadikannya menjadi senyawa cair, memperbolehkan tiap kata-kata itu mengikuti bentuk aliran sungai pada tiap nadi pembacanya, mengalir sampai otak menggambarkan apa yang mereka dapatkan dari kumpulan sastra itu.

Sastra, hampir lupa aku menyebut kata itu. Apa itu yang sedang ia lakukan? Sastra?
Apa itu yang sedang ia ciptakan? Sastra?
Apa aku terlalu berlebihan untuk mengatakan apa yang ia sajikan sebagai Sastra?
Untuk aku sendiri yang tidak paham apa itu Sastra atau bagaimana itu Sastra, aku mengagumi Sastra, akan tetap aneh jika aku meneruskan perasaan ini, karena aku kagum atas apa yang tidak kupahami.

Kalau benar, ini kah yang dinamakan Sastra?
Menjadi reaksi berantai antar satu, dua, hingga puluhan miliar orang, untuk saling menginspirasi, untuk saling mendukung, untuk saling berbagi karya.
Sampai hati aku bicarakan ini. Karena apa? kurasa aku adalah satu dari puluhan miliar orang itu. Atau mungkin karena itu adalah dia? bagaimana jika bukan dia, apa aku akan masuk dari puluhan miliar orang itu?

Beruntung aku masih bisa membaca apa yang ia sanjungkan. Meski tidak secara langsung, meski bukan kepadaku.

Dia juga membaca. Dia justru adalah pembaca. Dia adalah pembaca yang lebih dia kenal dibanding ia mengenal dirinya sebagai penulis.
Dia membaca seperti sebagaimana ia bernafas. Siapa yang ia baca? jawabannya adalah orang yang penting namun tidak penting jika kubicarakan di sini. Bisa jadi orang itu adalah reaksi berantai yang membuat dia menciptakan dunia aksara-nya sendiri.

Semakin lama aku membaca dari kata per kata miliknya, semakin aku ingin mengenalnya, namun tidak mungkin, kamu tidak perlu tau kenapa, karena yang perlu kamu tau adalah ketidakmungkinan itu.

Bagiku dia adalah Sastra. Sesuatu, atau bisa kubilang Seseorang yang tidak pernah bisa kupahami, seseorang yang tidak pernah kukenal, namun selalu kukagumi.
Hingga akhirnya, beginilah caraku mengenalnya, aku bertemunya lewat aksara, dan kutulis barisan-barisan kata untuk dapat mengenalnya sesuai mauku.

Lalu, jika ia adalah Sastra, apakah ia berarti semu? atau mungkin nyata namun hiperbolaku membuatnya semu?
Entahlah kalian akan menganggapnya seperti apa, bagiku dia nyata dalam kumpulan huruf-huruf alfabeta ini.

Juni 23, 2018

Narasi Melankoli (V)

Catatan ini adalah tentang kemarin. Tentang hari yang kamu tinggalkan. Sedang aku? Masih berada di hari yang sama. Tentang kembali dan kepulangan.

Dari yang lama mungkin kulupa..
Dengan senyum sunyinya hadir menyinari bersamaan kelamku.
Biana datang entah kapan, karena sibuknya aku memikirnya. Berpikir tentang apa yang aku sampaikan padanya nanti.
Sampai puisi itu pun belum selesai disuratkan, gundahku masih mengganggu karenanya.
Karena Biana sudah hadir. Entah.
Harusnya aku bersuka cita terhadapnya. Harusnya aku menyambut di kala kehadirannya.
Larut aku dibuat kedatangannya.

"Dera, kamu tidak berpikir ini sudah berakhir, bukan?"

Sekali lagi. Larut aku dibuat kedatangannya. Larut aku dibuat senyuman kelamnya.
Menghangatkan hati, namun perlahan membekukan otakku, tak lagi bisa untuk berpikir apa yang harus diutarakan,

"Dera.."

Suara itu, semakin jelas namaku disebutnya, semakin sejuk atmosfer ini diubahnya.

"Dera, dengar.. kamu tidak berpikir ini semua sudah berakhir, kan?"
"Itu adalah pertanyaan pertama dari sekian lama kamu tak bicara padaku.."

Lalu hening yang kita rasakan. Yang aku dengar hanya hembusan nafasnya yang menenangkan.

"Kenapa?"

Muncul lagi pertanyaan dari lidahnya. Pertanyaan demi pertanyaan, apakah kamu hanya akan terus bertanya Biana? Akan kusimpan pertanyaan itu dalam hati, sampai suatu saat nanti, aku yakin tak ada kesempatan untuk mempertanyakannya.

"Tidak ada yang berakhir. Dari awal pun aku tidak merasa semua ini akan berakhir, Biana, ayo pulang.."

Ia tersenyum. Ia tersenyum dengan segala kata-kata palsu yang kukeluarkan.
Tentu saja tidak semuanya palsu.
Dari seluruh kata-kata palsu yang kututur kepadamu, sebagian adalah harapan, dan sisanya adalah keputus-asaan.
Kamu pun pasti tau, tidak ada hal yang kuharap palsu dari hidup yang fana ini. Begitu pun dengan yang kuberikan.

Aku harap kamu demikian, Biana. Aku harap kamu demikian.

Depok, 8 Pebruari 2006
-Dera-

Mei 03, 2018

Prosa Putus-Asa

Putus asa..
Putus asa..

Berulang-ulang di otakku terekam kata-kata "Putus Asa"

Putus asa..
Putus asa..

Sampai hilang arti antara kata "Putus" dan "Asa"

Nyawaku sudah melayang, melewati lapisan kulit paling luar.
Namun aku masih hidup.
Masih bisa melihat lenganku.
Bagian tangan, yang tak bisa meraih apa-apa.

Lemah.
Lesu sudah rasanya. Untuk mengepal saja menyakitkan.
Antara otot dan otot tidak ada rasa bersatunya.
Semua menolak untuk bekerja sama.

Lalu mataku kembali layu, setelah lama menatap langit-langit ruangan ini.

Mati.
Itu pasti, tapi akankah saat ini?
Aku sudah menyerah.
Putus asa.

Di sisi lain tubuhku, ingin bangkit dari keterpurukan.
"Omong kosong!"
"Bahkan yang kamu lakukan hanya mengeluh."
Itu kataku. Aku yang lain. Yang lebih suka kalau aku mati.

Lalu cahaya itu datang.
Ya, aku melihat cahaya. Saat memenjamkan mata.
"Mati."
Hanya itu yang ada pikiranku.
Ternyata salah.
Itu cahaya yang seharusnya menyadarkanku.
Seharusnya.
Aku mengabaikannya.
Tetap menikmati kelesuan ini.
Yang akan berujung entah kapan, aku tak mau tahu.

Putus asa..

Sampai sekitar 27 detik penuh rasa lelah itu.
Aku merasakan putus asa.

Tapi detik ke 28 adalah waktu ku bangkit.
Terserah jika diriku yang lain ingin mati.
Aku tidak mau peduli.

April 05, 2018

dialog dan tawa dari sudut perkotaan

"Bagaimana harimu hari ini?" tanya sang Ayah kepada anak perempuannya yang kira-kira berumur 6 tahun. 
"Hari ini terik, Ibu marah-marah lagi gara-gara aku tidak mau makan." Ayahnya melihat ke arah sang Ibu yang hanya merespon dengan senyum kecil dan mengangkat kedua pundaknya.
"Belum lagi, ayah lagi-lagi pulang malam, kan aku mau ikut tadinya." sang Ayah justru tertawa mendengar jawaban putrinya. "Kamu yakin mau ikut Ayah?" tanya Ayahnya seraya sedikit tersenyum dan alisnya dinaikkan satu seperti merayu gadis kecilnya.
"Iya dong, memangnya tak boleh Yah?"
"Tentu boleh, Ayah akan senang, tapi kamu tidak tau.." raut wajah anak kecil itu seolah mulai serius mendengar Ayahnya.
"Di sana banyak orang, tapi seperti monster, besar-besar, tidak besar banget si, tapi rata-rata sebesar Ayah, atau bahkan lebih besar.."
"Sungguh Yah? ah pasti Ayah bohong kan. Ayah pasti bohong kan bu?" Sang Ibu hanya menjawab dengan tawa kecilnya, lalu gadis kecil itu kembali melihat ke arah Ayahnya, pandangannya seolah meminta Ayahnya untuk melanjutkan ceritanya.

"Hahaha.. Kamu mungkin tidak akan menyukainya, Nak. Mereka bermacam-macam wataknya, ada yang selalu sendirian, kadang dia marah kalau kita mendekatinya, ada juga yang ingin didengar, kadang dia juga marah kalau kita mengabaikannya, ada juga yang sangat lapar, ketika makanannya kurang, makananmu akan diambil, sampai dia kenyang.."
Anak itu mengerutkan dahinya, "Kenapa mereka begitu, Yah?" Tapi sang Ayah tidak menggubris pertanyaan anaknya itu, justru melanjutkan ceritanya.
"Itu belum seberapa, ada juga mereka yang sengaja melukai diri lalu menuduh kamu yang melukainya, ini biasanya dia lakukan karena tidak suka denganmu, nantinya bisa jadi kamu yang dihukum."
"Kok dia jahat, Yah?" pertanyaan dari sang Anak yang lagi-lagi tidak digubris oleh Ayahnya.

"Kamu tidak mau tau tentang mereka yang dihukum?"
Raut wajah gadis itu semakin serius, lebih ke mimik ketakutan dibanding serius. Tanpa menunggu jawaban dari anaknya, pria tua itu melanjutkan ceritanya.
"Ada juga mereka yang dihukum, ya apa lagi kalau bukan melakukan kesalahan, entah benar atau tidaknya dia melakukan kesalahan, semua orang bisa saja dihukum. Dan kamu tau? orang yang menghukum itu biasanya berbadan besar, mungkin 5 meter tingginya."

Sang gadis sejenak melihat ke arah ibunya, raut wajahnya kini terlihat sangat ketakutan, dalam pandangannya juga tersirat entah karena dia menerka-nerka tentang sang Ayah yang mengarang soal orang setinggi 5 meter, atau memang ia tak bisa membayangkan seberapa besar orang setinggi 5 besar itu. Hanya yang jelas dari raut mukanya adalah ketakutan.
"Lalu orang berbadan besar itu akan menghukum orang lain, orang lain itu bisa jadi kamu, dan siap-tidak siap kamu harus dihukum.."
Gadis itu sekarang semakin takut membayangkan jika Ia yang dihukum.
"..dihukum, dengan GELITIKAN!" Pria tua itu memberi kejutan gelitikan kepada anaknya, yang membuat suasana cair. Semua tertawa, sang Ayah, karena berhasil mengerjai anaknya. Sang Anak, karena digelitik ayahnya, dan sang Ibu, ikut tertawa melihat kedua orang yang disayanginya.

"Namun ingat, Nak. Yang ayah ceritakan itu belum semua, dan semua itu mungkin saja bisa terjadi, dan kamu tidak perlu takut, tak ada yang perlu ditakutkan jika kamu memang benar. Dan kamu juga jangan takut dihukum jika memang kamu salah, dengan begitu kamu mendukung yang benar."
Gadis kecil itu justru bingung dengan apa yang dikatakan ayahnya. "Maksudnya gimana, Yah?"
"Hahahaha, suatu saat nanti kamu pasti mengerti, yang penting dari sekarang, kamu jangan takut dengan apa yang akan kamu hadapi, OKE?" "SIAP KOMANDAN!"

Dialog beserta narasi dari sang Ayah itu pun lagi-lagi ditutup dengan gelak tawa yang dikarenakan respon lucu dari anaknya. Itulah kisah mereka. Mereka yang terkadang tidak kita hiraukan. Mereka yang menikmati hidup apapun situasinya. Mereka yang kulihat di malam itu.

Mereka yang malam itu bersiap untuk tidur. Mereka yang berbaju lusuh. Mereka yang malam itu berlesehan di depan emperan toko, beralaskan kain seadanya yang mereka punya.

Mereka yang mengakhiri malamnya dengan dialog dan tawa penuh makna.