Malam pukul 11 tepat
Aku menanti satu waktu yang berpijaknya aku di sana
Membuka satu jendela usang
Menghirup udara malam negeri tirani
Saat ini aku merasa seluruh kota seperti mati
Tetapi, "mati"-ku tidak berarti sempit
Mati..
Tidak ada gerakan yang kulihat, kecuali angin yang membuat ranting melambaikan tangannya padaku, menginginkan aku untuk berpisah dengannya melalui tidur
Mati..
Beristirahat, tapi untuk sementara, dengkuran halus yang tidak terdengar, dan lolongan anjing yang meminta perhatian tuannya
Ups.. apakah aku sebut negeri tirani?
Maaf untuk kamu yang tersinggung
Di saat seperti ini, aku senang berfikir kritis
Tidak seperti sakramen dalam baptis
Aku bisa berfikir lebih jahat dan kotor atas pandangan suatu negeri
Apalagi yang sudah ternoda tanpa perlu aku kotori
Bunyi yang hampa..
Hmm.. Menyampaikan pesan untuk segera tidur
Tapi aku belum mau
Bagaimana dengan dia?
Ya, sempat terfikir tentang dia, saat aku menutup kembali jendela, dan berpaling mecoret-coret buku ini
Namun mereka benar tentang aku
Mereka, teman-temanku, benar tentang aku kepada dia
Lebih baik aku menulis yang merubah pandanganku kepada dunia
Dibanding merubah pandangan dia kepadaku
Kata mereka, itu urusan Tuhan
Bagaimana mungkin aku berani menentang-Nya
Ah..
Akhirnya pukul 12 malam
Aku berbaring di kasurku tanpa melepaskan pena dan buku ini
Aku ingin menulis lebih panjang lagi..
Tapi fikiranku berkata, "Istirahatlah"
Ya.. Aku hanya mau mengulang ingatanku hari ini..
Mengingat untuk tetap berdoa, hal positif untuk dilakukan, dan sedikit tentang dia untuk motivasi
Hey, cobalah untuk membaca ini pada malam hari..
Agar kamu tau, bagaimana mengkritik negeri tiranimu sendiri..
Juni 11, 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
malam selalu saja penuh dengan misteri
BalasHapusmerangsang siapa saja untuk menelusuri
salam
www.insomniakronika.blogspot.com